Press "Enter" to skip to content

7 Lapis Diri

Pengenalan

Dalam kajian spiritual pendalaman mengenai bahasan jasad jasmani dan ruhani manusia banyak ragam konsep dan sistemnya, tergantung konsep dan sistem siapa yang dianut. Ada satu konsep terkenal dalam tiap kajian spiritual, yaitu mengenai konsep 7 (tujuh) lapis diri manusia.

Dalam artikel kali ini dibahas secara global dari tiap sistem yang ada, sedekat apa yang saya ketahui. Karena untuk penjelasan mendalamnya itu adalah bagian mentor atau mursyid masing-masing. Selamat membaca.

Secara umum istilah 7 (tujuh) lapis diri yang dikenal urutannya sebagai berikut:

  1. Lapis kulit,
  2. Lapis kulit ari,
  3. Lapis urat,
  4. Lapis darah,
  5. Lapis daging,
  6. Lapis tulang,
  7. Lapis sum-sum.

Tiap-tiap (@) lapis mempunyai 7 sub lapis yang pada tiap sub lapis tersebut ada bab kajiannya.

Dalam berbagai sumber

Al-qur’an

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” . (QS. Al-Baqarah:261)

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun” . (QS. Al-Isra:44)

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?”  (QS. Nuh:15) Dan lain-lain.

Bible/Alkitab

Kejadian 8:4: Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.

Keluaran 12:15: Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel

Keluaran 24:16: Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh. 

Imamat 4:6: Imam harus mencelupkan jarinya ke dalam darah itu, dan memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus

Imamat 8:11: Dipercikkannyalah sedikit dari minyak itu ke mezbah tujuh kali dan diurapinya mezbah itu serta segala perkakasnya, dan juga bejana pembasuhan serta alasnya untuk menguduskannya.

Matius 15:34: Kata Yesus kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.”

Markus 16:9: Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.

Wahyu 1:

12. Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.
16. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.
20. Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

Budha

Mengenai kajian tujuh lapis diri ini dalam bahasan Budha ada dalam kajian Seven Factors of Awakening/ Satta bojjhaṅgā /satta sambojjhaṅgā/sapta bodhyanga, yaitu ; (1) Mindfulness (sati). To maintain awareness of reality (dharma), (2) Investigation of the nature of reality (dhamma vicaya),(3) Energy (viriya) also determination, effort, Joy or rapture (pīti), (4) Relaxation or tranquility (passaddhi) of both body and mind, (5) Concentration, (samādhi) a calm, one-pointed state of mind,or clear awareness, (6) Equanimity (upekkha). (7) To accept reality as-it-is (yatha-bhuta) without craving or aversion.

Hindu

Dalam Hindu kajian 7 (tujuh) lapis diri ini ada pada kajian Sapthapuri, Saptha-Dweepa, Saptha Samudra, Saptha-Nadi, Saptha Lokas, Saptha Rushi, Saptha Rushi mandala, Saptha Chiranjeevi, Saptha-Dhaatu, Sapthapadi, Sapthasathi, Saptha Maathruka, Sapthamukhi Rudraaksha, Sapthaana, Saptha Vyasanas, Sapthagiri, dan lain-lain.

Dan masih banyak lagi sesuai dengan istilah bahasa yang dipergunakan dalam rujukan primer masing-masing.

Gambaran umum

Secara umum bahasan mengenai kajian 7 (tujuh) lapis diri ini adalah membahas masalah cara manusia mengelola dirinya sebagai makhluk yang berinteraksi dengan Tuhan, alam, manusia selain dirinya, dan makhluk lainnya. Agar manusia dapat mengelola dirinya sendiri dengan baik dan ideal hingga level terdalam dari diri, maka dalam kajian spiritual (kabuhunan, tasawuf, irfan, esoteris, dan atau istilah-istilah lainnya dengan ragam bahasanya) manusia diidealkan untuk memahami ketujuh lapis diri yang mengonsep dalam wujud manusia dan manusiawinya.

Sekelumit penjelasan

Penjelasan secara umum dari kajian ini adalah;

  1. Lapis kulit membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat dan dengar saja.
  2. Lapis kulit ari membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir.
  3. Lapis urat membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain.
  4. Lapis darah membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya.
  5. Lapis daging membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan.
  6. Lapis tulang, membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan. Setelah itu mentashrifkan, menahwukan, mengi’rabkan, membalaghahkan, dan mengkitabkannya. Sehingga apa yang telah dia jalani dan alami akan menjadi sebuah wujud kitabi yang akan dia bawa dan dia selalu baca dalam jalan hidupnya sebagai tuntunan agar hidupnya, baik lahirnya, baik bathinnya itu tidak kekurangan dan tidak berlebihan.
  7. Lapis sum-sum, membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan. Setelah itu mentashrifkan, menahwukan, mengi’rabkan, membalaghahkan, dan mengkitabkannya. Sehingga apa yang telah dia jalani dan alami akan menjadi sebuah wujud kitabi yang akan dia bawa dan dia selalu baca dalam jalan hidupnya sebagai tuntunan agar hidupnya, baik lahirnya, baik bathinnya itu tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Kemudian dirinya dan kitabnya menyatu dengan Sang Diri Central dan Kitab Central. Menyatu dengan artian berkoneksi, sehingga apa yang dia belum tau mengenai segala rahasia hidup, jika di izinkan Sang Diri Central, maka dari Kitab Central akan langsung ditransfer datanya ke kitab dirinya, sehingga dirinya tinggal membaca hasil transfer tersebut dalam kitab dirinya tersebut.

Sebuah Contoh

Kajian ALIF

  1. Lapis kulit membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat dan dengar saja.
  2. Lapis kulit ari membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir.
  3. Lapis urat membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain.
  4. Lapis darah membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya.
  5. Lapis daging membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan.
  6. Lapis tulang, membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan. Setelah itu mentashrifkan, menahwukan, mengi’rabkan, membalaghahkan, dan mengkitabkannya. Sehingga apa yang telah dia jalani dan alami akan menjadi sebuah wujud kitabi yang akan dia bawa dan dia selalu baca dalam jalan hidupnya sebagai tuntunan agar hidupnya, baik lahirnya, baik bathinnya itu tidak kekurangan dan tidak berlebihan.
  7. Lapis sum-sum, membahas mengenai interaksi manusia dalam kehidupannya dengan Alif sesuai apa yang dia lihat, dengar saja, dan rasa juga pikir. Kemudian melacak kemana arahnya, siapa sumbernya, dimana asal-usulnya, apa alasannya, kapan tepatnya, dan lain-lain. Kemudian merasakan dengan pengalaman sendiri dan bukan katanya. Kemudian setelah merasakan dengan pengalamannya, dia mengejawantahkan dalam kehidupannya sehari-hari secara tertib dan berkesinambungan. Setelah itu mentashrifkan, menahwukan, mengi’rabkan, membalaghahkan, dan mengkitabkannya. Sehingga apa yang telah dia jalani dan alami akan menjadi sebuah wujud kitabi yang akan dia bawa dan dia selalu baca dalam jalan hidupnya sebagai tuntunan agar hidupnya, baik lahirnya, baik bathinnya itu tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Kemudian dirinya dan kitabnya menyatu dengan Sang Diri Central dan Kitab Central. Menyatu dengan artian berkoneksi, sehingga apa yang dia belum tau mengenai segala rahasia hidup Alif, jika di izinkan Sang Diri Central, maka dari Kitab Central akan langsung ditransfer datanya ke kitab dirinya, sehingga dirinya tinggal membaca hasil transfer tersebut dalam kitab dirinya tersebut. 

Sekian pembahasan untuk kali ini, jika ingin mendetail mengenai apa saja yang dibahas dalam kajian 7 (tujuh) lapis diri ini, silahkan berkonsultasi dengan mentor dan mursyidnya masing-masing.

Semoga bermanfaat, semoga berbahagia, salam damai selalu.

Cheers.. KLepus… WhuUuZz


Sumber fhoto artikel dari Pixabay.com dengan lesensi Pixabay License.

Opini, kritik, saran, dan diskusi yang membangun kami persilahkan.

error: Content is protected !!