Skip to content

Bencana Alam

Posted in Dialogue

Last updated on Maret 20, 2019

Suasana awal malam hari yang agak mendung-mendung metal, diiringi semilir angin yang berhembus agak slow rock..

Murid: “Guru, bencana besar telah terjadi di daerah “tihang”, banyak sekali korbannya, di daerah kita dan daerah-daerah lain sedang ramai perdebatan, dari orang-orang bergelar sampe masyarakat biasa ikut memperdebatkan hal tersebut, apakah bencana alam tersebut adalah adzab atau bukan, banyak sekali pendapat yang beredar, itu bagaimana guru ?”

Guru: (… memandang awanan yang meredup, seiring angin yang sedang berhembus pilu… wajahnya menampakan kesedihan mendalam) “Apanya yang bagaimana anakku ?”

Murid: “Ya saya harus percaya pendapat yang mana ?”

Guru: “Anakku.. yang harus kamu lakukan itu adalah memberi bantuan nyata kesana kalau mampu, kalau tidak mampu, do’akan agar mereka yang terkena musibah bencana tersebut dapat melaluinya dengan tegar dan aman”

Murid: “Terus bagaimana dengan pendapat-pendapat yang beredar itu guru?”

Guru: “Diketahui adzab atau bukan bencana alam tersebut, tidak akan merubah situasi pilu yang terkena bencana menjadi situasi bahagia, pengetahuan penting bagi yang terkena bencana itu sebenarnya apakah akan ada bencana alam susulan atau tidak, pengetahuan penting bagi yang tidak terkena bencana adalah apakah bencana alam tersebut akan melebar ke daerahnya atau tidak”

Murid: “Lalu itu bencana alam adzab atau bukan guru .. ? Saya penasaran…”

Guru: “Ya memang … manusia itu hidup dan matinya adalah akibat dari rasa penasarannya, anakku.. adzab bagi manusia itu ada dua, adzab besar dan adzab kecil, adzab besar yang mengakibatkan kematian atau mengakibatkan kerusakan parah pada diri, adzab kecil itu yang mengakibatkan kesulitan pada kehidupan sehari-hari. Bencana alam sebenarnya bukan “diri” dari adzab itu sendiri, bencana alam itu bagi bumi adalah perbaikan “diri”, karena bumi ini disetting untuk memperbaiki diri sendiri jika terjadi kerusakan pada dirinya…nah proses dari perbaikan diri bumi inilah dikenal manusia dengan sebutan bencana alam. Sebesar apa bencana alam yang terjadi itu tergantung sebesar apa kerusakan pada diri bumi yang perlu diperbaiki oleh sistem penyembuhan bumi tersebut. “Diri” dari adzab itu adalah “hantaman” kerusakan yang mengenai diri manusianya, dan tiap manusia walaupun terkena hantaman yang sama kadang level kerusakannya berbeda, tergantung dari level keburukan yang pernah dilakukan oleh manusia tersebut”.

Murid: ” ooh .. jadi sebenarnya bencana alam itu tidak diarahkan untuk mengadzab manusia, tapi kerusakan yang mengenai manusianyalah yang menjadi adzab itu, lalu bagaimana dengan korban-korban tidak bersalah yang meninggal, ada anak kecil, mungkin ada orang-orang shaleh atau baik, dan lain-lain, koq bareng kena adzab juga ?”

Guru: “Seperti yang aku katakan tadi, bahwa bencana alam adalah proses perbaikan diri yang dilakukan bumi untuk memperbaiki kerusakan yang sedang terjadi pada dirinya, nah proses perbaikannya tersebut yang dikenal manusia sebagai bencana alam, itu bisa menjadi adzab bagi orang-orang yang bersalah dan menjadi kecelakaan yang tidak disengaja bagi orang-orang yang tidak bersalah, karena tujuan dari (yang dikenal manusia sebagai) bencana alam tersebut adalah memperbaiki diri bumi yang rusak bukan untuk mengadzab manusia. Karena manusia tidak akan tau siapa saja yang bersalah dan siapa yang tidak, maka sikap yang baik ketika ada bencana alam adalah memberi bantuan nyata kepada yang terkena bencana dengan sesuatu yang mereka butuhkan”.

Murid: ” oohh .. begitu.. tapi guru ..”

Dari dalam gubuk sebelah tajug ada suara … “eeh si aki ada anak dateng malah diajak ngobrol di tajug aja, ini ajak makan  singkong bacem …sama aer udah panas kalau mau pada bikin kopi … mumpung belum lama matengnya .. masih anget nih singkong bacemnya …”

Guru: ” Nenek-nenek udah ngomel tuh .. yuk “mengupi” dulu suguhannya tuh nenek..  “

Murid: ” pangandika guru …”

Gerimis mulai nuzul perlahan, menyirami atap tajug yang terbuat dari jalinan bambu, kayu, jerami dan dedaunan kering berumur tahunan …


Photo under license of Pixabay.com

error: Content is protected !!