Ilmu Irfan

Ilmu Irfan

Kalimat Pembuka Irfan

Ilmu Irfan. Dalam tulisan sebelumnya saya telah membahas mengenai tasawuf. Yaitu sebagai sebuah teknologi ilmu yang menjadi bagian dari hasil kecerdasan-kecerdasan manusia yang berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh ruhani mereka. Sekecil apapun itu.

Ilmu pengetahuan tersebut selain dikenal dengan sebutan tasawuf, dikenal juga dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu ini dikenal juga dengan sebutan hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dll.

Nah pada artikel kali ini saya akan membahas tentang ilmu irfan.

Untuk kajian ilmu lainnya seperti Mysticism, Spirituality, Kabuhunan, Hikmah, dan lain-lain, semoga saya bisa membahasnya pada kesempatan yang lain. Selamat membaca.

Apakah Ilmu Irfan ?

Irfan menurut bahasa

تعريف علم العرفان

 

العرفان في اللغة مشتقّ من “عَرَفَ”، ويُعْنى به المعرفة. يقول ابن منظور: “عرف: العرفان: العلم… عَرَفَه، يَعْرِفُهُ، عِرْفَة وعِرْفاناً وعِرِفَّاناً وَمَعْرِفَةً واعترفه… ورجل عروفٌ: وعَروفة: عارف يعرف الأمور، ولا ينكر أحداً رآه مرة… والعريف والعارف بمعنى مثل عليم وعالم… والجمع عرفاء…”

Kata irfan menurut bahasa adalah derivatif dari kata عرف yang diketahui darinya kata makrifat ( المعرفة). Menurut Ibn Manzhur: “ ‘Arafa: Al-‘irfan sama dengan kata Al-‘ilmu… ‘Arafahu, ya’rifuhu, ‘irfah wa ‘irfaanan wa ‘irifaanan wa ma’rifatan wa i’tirafahu… contoh kata rajulun ‘aruufun atau ‘aruufah bermakna seorang yang berpengetahuan yang mengetahui banyak hal, dan pengetahuannya tersebut tidak ditolak oleh seorang pun. Sedangkan kata Al-‘ariif dan Al-aarif itu semakna dengan ‘Aliim dan ‘Aalim… dan kata jamaknya adalah ‘Urafa…

Terjemahan mudahnya kata Irfan menurut bahasa adalah pengetahuan yang kuat, tinggi, atau mendalam.

Irfan menurut Istilah

العرفان في الاصطلاح عبارة عن المعرفة الحاصلة عن طريق المشاهدة القلبية، لا بواسطة العقل ولا التجربة الحسّية… وهذا اللون من المعرفة يحصل في ظلّ العمل المخلص بأحكام الدين، وهو الثمرة الرفيعة والنهائية للدين الحقيقي


وعلى هذا الأساس قدَّم أصحاب الاختصاص تعاريف متعدّدة للعرفان، من أبرزها ما جاء على لسان القيصري: “هو العلم بالله سبحانه، من حيث أسماؤه وصفاته ومظاهره وأحوال المبدأ والمعاد والعلم بحقائق العالم وبكيفيّة رجوعها إلى حقيقة واحدة، هي الذات الأحدية

 

Kata Al-‘irfan menurut istilah adalah pengenalan atau pengetahuan yang didapatkan dari jalan kesaksian hati atau rasa. Tanpa perantaraan akal dan capaian indera. Dan yang seumpama ini adalah bagian dari makrifat yang didapatkan dalam naungan amal yang ikhlas dengan hukum-hukum agama.

Keadaan tersebut adalah hasil yang tinggi (pencapaian yang luar biasa) dan puncak dari agama secara hakikat.

Atas dasar ini, para ahli menyajikan berbagai definisi irfan, yang paling menonjol di antaranya adalah kata-kata Al-qusyairi: “Ini adalah ilmu tentang Allah Yang Maha Suci, dalam hal nama, atribut dan manifestasi, mabda’ dan ma’ad, pengetahuan tentang realitas semesta dan bagaimana kembalinya kepada realitas yang satu, yaitu Dzat Yang Memiliki Sifat Tunggal”.

Pembagian ilmu irfan

أقسام العرفان


يظهر من التعريف المتقدّم أن العرفان يقسم قسمين: العرفان النظري، والعرفان العملي.


أمّا العرفان النظري، فهو العلم بالله تعالى وأسمائه وصفاته وتجلّياته. ويُراد منه إعطاء رؤية كونية عن المحاور الأساسية في عالم الوجود، وهي “الله” و”الإنسان” و”العالم”.

والعرفان العملي عبارة عن العلم بطريق السير والسلوك، فمن أين يبدأ، وإلى أين ينتهي، وما هي المنازل والمقامات التي يجب أن يسلكها العارف للوصول إلى الله تعالى، وكيفيّة مجاهدة النفس للتغلّب على ميولها وتحريرها من علائقها، حتى تستطيع طيّ المراحل والجدّ في سيرها إلى الله تعالى

Dalam kajiannya, ilmu Irfan terbagi kepada dua bagian, yaitu:

  1. Irfan Nazhriyyi
  2. Irfan ‘Amaliy

Irfan Nazhriyyi

Adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya). Yang dimaksud dari kesemuanya tersebut adalah anugerah pengetahuan mengenai kemaujudan melalui poros utama keberadaan wujud. Yaitu Allah, Insan, dan Alam.

Irfan ‘Amaliy

Adalah seperti pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala. Kemudian pengetahuan mengenai cara-cara mujahadah nafs (perjuangan diri) untuk mengendalikan kecenderungan mereka dan pembebasan mereka dari segala ketergantungan. Sehingga mampu melewati tahapan-tahapan dengan kesungguhannya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala.

 

 

Contoh Kajian Irfan dalam ayat

QS. Al-A’rāf : 46

 

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A’raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk)”. 

Dalam kajian makrifat irfan ya’rifuna orang beriman dapat terjadi di dunia. Orang-orang khusus dari kalangan orang beriman dan orang-orang khusus dari kalangan zhalimin akan sangat ya’rifuna terhadap kawan dan lawannya. Karena mereka memiliki ageman pemgetahuan khusus masing-masing.

 

QS. Al-Mu’minūn : 69

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka (Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?”

Ya’rifuu pada ayat ini dalam kajian makrifat irfan adalah ketika murid mengenal murad, mursyid mengenal mursyad, ‘alim mengenal jahil, dan lain-lain.

Juga ketika tiap manusia yang berkemampuan khusus mampu ya’rifuu terhadap alam sekitarnya. Mampu musyahadah ketika bagaimana tanah, air, dedaunan, pepohonan, ilalang, batu, debu, dan lain-lain saling berkomunikasi antara satu dengan lainnya.

 

QS. An-Naml : 41

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ

Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi.”

Dalam kajian makrifat irfan ayat ini berhubungan dengan kajian manusia dalam jirim raga ruhani muanats berusaha untuk mengenal manusia dalam jirim raga ruhani mudzakar, baik ghaibnya atau mukhatabnya, baik tinggalnya atau jamaknya.

Baik jirim raga manusia tersebut adalah dirinya sendiri, maupun jirim raga manusia selain dirinya.

 

QS. Luqmān : 34

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal”.

Ilmu sa’ah pada ayat di atas dalam kajian makrifat irfan terbagi kepada tiga. Dimana dari tiga bagian tersebut tiap satu bagiannya terbagi kepada 9000 bagian.

Yang jika ditotal 9000×3, maka menjadi 27000 bagian.  Kemudian pada tiap 1 bagian dari yang 27000 tersebut ada tingkatan dan levelnya masing-masing. Yang kesemuanya hanya orang-orang terpilihlah yang mampu mencapainya.

Dalam ilmu tersebut terkandung inti dari segala ilmu pengenalan wujud, baik wujud cabang maupun wujud pusat. Baik itu wujud primer maupun wujud sekunder atau tertier. Dan semua cabang dari wujud-wujud tersebut, dan masih banyak lagi.

Dan lain-lain…

 

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits

 

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits Syi’ah Imamiyah

 

Dari Al-kafi, Al-kulayni

 

عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن الحجال، عن ثعلبة بن ميمون، عن عبد الاعلى بن أعين قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام من لم يعرف شيئا هل عليه شئ؟ قال: لا

Dari segolongan sahabat-sahabat kami, dari Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa, dari Al-hujal, dari Tsa’labah bin Maimun, dari ‘Abdul A’la bin A’yun berkata: Aku bertanya kepada Aba ‘Abdillah AS: “Bagi orang yang tidak makrifat terhadap sesuatu adakah baginya sesuatu ?” beliau menjawab: ‘tidak’’.

Dalam salah satu kajian irfan, hadits ini membahas mengenai keseimbangan kewajiban seorang manusia dengan tingkat kemakrifatannya tentang sesuatu.

Dan masih panjang lagi …

 

Contoh Kajian Irfan Dalam Hadits Ahlussunnah

 

Dari Musnad Imam Ahmad

 

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِالسُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَأَنْظُرَ إِلَى بَيْنِ يَدَيَّ فَأَعْرِفَ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ وَمِنْ خَلْفِي مِثْلُ ذَلِكَ وَعَنْ يَمِينِي مِثْلُ ذَلِكَ وَعَنْ شِمَالِي مِثْلُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ فِيمَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَى أُمَّتِكَ قَالَ هُمْ غُرٌّ مُحَجَّلُونَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ لَيْسَ أَحَدٌ كَذَلِكَ غَيْرَهُمْ وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ وَأَعْرِفُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ذُرِّيَّتُهُمْ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ شَكَّ فِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ أَوْ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ يَحْيَى فَيَقُولُ فَأَعْرِفُهُمْ أَنَّ نُورَهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ حَدَّثَنَا يَعْمَرُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا ذَرٍّ أَوْ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib dari Abdurrahman bin Jubair dari Abu Darda` ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akulah orang yang pertama kali diizinkan untuk sujud dan mengangkat kepala pada hari Kiamat, dengan itu aku dapat melihat dan mengenali umatku diantara umat-umat sebelumku, baik dari arah depan, belakang, sebelah kanan dan kiriku.”

Seseorang berkata kepada beliau; wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana engkau dapat mengenali umutmu diantara umat-umat sebelummu, dari umatnya nabi Nuh sampai umatmu?, ” Beliau menjawab: “Wajah umatku berseri-seri disebabkan bekas air wudhu, dan tidak ada seorang pun yang menyerupainya kecuali ummatku. Dan aku juga mengenali umatku, yaitu diberikannya kitab dari tangan kanan, serta anak keturunan mereka berjalan disisi kanan kirinya.”

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq -dia ragu dalam periwayatannya- ia berkata; ‘Aku mendengar Abu Dzar atau Abu Darda` berkata; Yahya mengatakan; “Aku mengenalinya dengan tanda cahaya menyinari bagian depan dan kanannya.”

Telah menceritakan kepada kami Ya’mar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bn Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abu Habib dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair bahwa ia mendengar Abu Dzar atau Abu Darda` berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akulah manusia yang pertama kali diberi izin untuk sujud.” Lalu ia menyebutkan makna hadits di atas.

Dalam kajian makrifat irfan, hadits ini mengenalkan konsep kesadaran wujudi yang mumpuni dari Rasulullah. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa beliau mampu mengenal umatnya di alam akhirat dengan melihat dari bekas wudhunya. Padahal secara kasat mata manusia biasa bekas wudhu yang keliatan itu ya basah. Padahal tidak semua basah itu adalah bekas wudhu.

Tapi Rasulullah melihat bekas wudhu itu sebagai wujud rupa yang berseri-seri, dan bekas wudhu umat Rasulullah dapat beliau bedakan dengan bekas wudhu umat sebelum umat beliau.

Dan masih panjang lagi kajian mendalamnya. Itu hanya gambaran umumnya saja.

Sebagaimana tiap ayat dalam kitab suci adalah bagian dari kajian ilmu ‘irfan, maka begitu pula tiap hadits yang ada dalam kitab-kitab hadits ada kajian ‘irfannya.

Dalam kajian makrifat ‘irfan, semua ayat Al-qur’an itu termasuk kepada bagian yang utama dalam kajian. Dan kajian ‘irfan-pun membahas mengenai tiap ayat yang dalam kitab-kitab suci berbagai agama. Semoga dalam kesempatan yang lain saya mampu membahasnya .

Ayat  Al-qur’an dan hadits yang saya cantumkan di atas adalah sebagai gambaran umum saja mengenai keberadaan ilmu irfan dalam ayat dan hadits. Walaupun mungkin bagi yang belum terbiasa dengan metodologi  kajian makrifat dan irfan akan terlihat sebatas isyarat yang kuat saja.

Kemudian bahasan yang saya tulis untuk menyertai kutipan ayat dan hadits di atas adalah kajian saya bersama almarhum Abah.

Tiap guru, mursyid, murrabi, mentor, dan lain-lain mempunyai konsep dan sistemnya sendiri dalam menyampaikan kajian. Jadi apa yang saya dapatkan sangat mungkin berbeda dengan yang orang lain dapatkan.

Penjelasan dari sisi apa yang saya dapat di atas merupakan salah satu contoh saja dari sekian banyak metodologi mengenai kajian makrifat dan irfan ketika mengkaji ayat dan hadits.

 

Apa Saja Yang Dikaji Dalam Ilmu Irfan ?

Seperti apa yang telah dijelaskan di atas yang dipelajari dalam ilmu irfan adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya). Yang dimaksud dari kesemuanya tersebut adalah anugerah pengetahuan mengenai kemaujudan melalui poros utama keberadaan wujud. Yaitu Allah, Insan, dan Alam. Yang kesemuanya ada dalam kajian ilmu irfan nazhriyi.

Dan  pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala.

Kemudian pengetahuan mengenai cara-cara mujahadah nafs (perjuangan diri) untuk mengendalikan kecenderungan mereka dan pembebasan mereka dari segala ketergantungan. Sehingga mampu melewati tahapan-tahapan dengan kesungguhannya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala. Kajian ini ada dalam ilmu irfan ‘amaliy.

 

Perbedaan dan Persamaan Irfan Dengan tasawuf

Menurut kitab Irfanu Ash-shufiy ‘inda Jalaludin Ar-rumi, karya Farahnaz bahasan irfan menitik beratkan kepada konsep berfikir yang kuat, rumit, mendalam, dan  tinggi dalam menyingkap Makrifat Al-haq, hakikat-hakikat rupa dan bentuk,   rahasia-rahasia rumuz, rahasia-rahasia semesta dan lain-lain.

Sementara tasawuf adalah ilmu yang mengkaji masalah pembersihan diri, kesempurnaan akhlak, pemeliharaan kezuhudan, penolakan ketergantungan terhadap dunia, dan lain-lain.

Jika dibandingkan dengan apa yang telah dibahas pada paragraf sebelumnya dapat dipahami bahwa ilmu irfan yang digambarkan Farahnaz itu termasuk kepada ilmu irfan nazhriyi. Sedangkan tasawuf yang digambarkan oleh Farahnaz termasuk ke dalam teritori  ilmu irfan ‘amaliy.

Pada era sekarang Ilmu irfan lebih terkenal masyhur dalam dunia kajian syi’ah. Tapi sebenarnya apa yang dikaji dalam ilmu irfan itu sama dengan apa yang dikaji dalam ilmu tasawuf. Jadi bisa dikatakan bahwa ilmu irfan itu adalah ilmu tasawufnya orang syi’ah.

Sedangkan bagi Ahlu Sunnah, kajian irfan menjadi bagian dari kajian tasawuf. Dengan artian dalam dunia Ahlu Sunnah, kajian ilmu irfan ada dalam kajian ilmu tasawuf. Terkadang ada yang menyebutnya dengan istilah tasawuf filsafat. Tapi memang umumnya Ahlu Sunnah lebih mengenal ilmu tasawuf ketimbang ilmu irfan.

 

Kitab-kitab Ilmu Irfan

Bagi Ahlu sunnah pada dasarnya tiap kitab yang mengkaji tasawuf pasti di dalamnya ada kajian atau menyentuh ilmu irfan. Kitab-kitab seperti Al-hikam, Ihya, Fath Ar-rahman, Mantiq Ath-thair, Al-matsnawi, futuhat Al-makiyah, dan lain-lain di dalamnya terdapat kajian-kajian irfan yang luar biasa untuk dikaji.

Dalam syi’ah imamiyah, kajian ilmu irfan itu sendiri sebenarnya ada dalam kitab-kitab filsafat, dimana apa yang dibahas di dalamnya  menyentuh kajian irfan nazhriyi. Kitab-kitab seperti bidayatul hikmah, nihayatul hikmah, Usfur, dan lain-lain.

Sedangkan untuk irfan ‘amaliy dibahas dalam kitab-kitab akhlaqiy, kitab-kitab syarah do’a, dan kitab-kitab syarah hadits.  Seperti kitab tuhaful ‘uqul, ilal syara’i, syarah nahjul, syarah al-kafi, syarah kumail, syarah shahifah sajadiyah, dan lain-lain.

 

Kesimpulan

Telah kita bahas bersama bahwa terjemahan mudahnya kata irfan menurut bahasa adalah pengetahuan yang kuat, tinggi, atau mendalam.

Kemudian menurut istilah para ahli menyajikan berbagai definisi irfan, yang paling menonjol di antaranya adalah kata-kata Al-qusyairi: “Ini adalah ilmu tentang Allah Yang Maha Suci, dalam hal nama, atribut dan manifestasi, mabda’ dan ma’ad, pengetahuan tentang realitas semesta dan bagaimana kembalinya kepada realitas yang satu, yaitu Dzat Yang Memiliki Sifat Tunggal”.

Kemudian dalam kajiannya, ilmu Irfan terbagi kepada dua bagian, yaitu:

  1. Irfan Nazhriyyi
  2. Irfan ‘Amaliy

Irfan Nazhriyyi adalah pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tajaliyah-Nya (manifestasi-manifestasi-Nya). Dan irfan ‘Amali adalah seperti pengetahuan mengenai jalan As-siir dan suluk, dari mana harus memulai dan kemudian berakhir, apa saja tempat-tempat, level-level, yang wajib dilalui oleh orang ‘Arif untuk sampai kepada Allah Ta’ala.

Kemudian telah disampaikan beberapa contoh dalil dari ayat dan hadits. Dengan disertai contoh kajian dari sisi ahlu sunnah dan syi’ah imamiyah. Apa bedanya irfan dengan tasawuf secara umum juga telah dibahas. Dan contoh kitab-kitab yang mengkajinya sudah disampaikan.

Yupz … sekian dulu pembahasan untuk kali ini. Dengan segala kekurangan yang ada semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan, pengingat bagi yang lupa, daras ulang bagi yang sudah hafal, dan tambahan bacaan bagi yang suka iseng baca.

Jika ada yang ingin didiskusikan mengenai tema ini, atau ada koreksi, saran, dan lain-lain silahkan sampaikan di kolom komentar.

Jika merasa isi artikel ini bermanfaat dalam kebaikan silahkan share seluas-luasnya.

Salam damai selalu, terimakasih telah berkunjung ke blog saya, dan selamat bersuluk ria…

Cheeers… KLepus… whuUuZz


Sumber:

  1. Al-qur’an Al-karim
  2. Al-kafi, Al-kulayni, Juz. 1, hlm. 116, hadits no. 2, Penerbit. Darul Murtadha, Beirut-Libanon,  cetakan. 1, thn. 1426H/2005M
  3. Musnad Imam Ahmad, juz. 36, hlm. 64-65, hadits. 21736, Penerbit. Mu’asasah Ar-risalah, cetakan. 1, thn. 1421 H/ 2001 M
  4. Irfanu Ash-shufiy ‘Inda Jalaludin Ar-rumi, Farahnaz, hlm. 195-196, Penerbit. Darul Hadi, cetakan. 1, thn. 1429H/2008M
  5. At-tashawwuf Al-islam Min Ar-rumzi Ila Al-‘irfan, DR. Muhammad bin Barikah, 375-387,  Penerbit. Dar Al-moutoon, cetakan. 1, thn. 1427 H/2006 M
  6. Mabadi’ ‘Ilmu ‘Irfan, Markaz Nun Li Ta’rif wa Tarjamah, hlm. 17-20, Jam’iyah Al-ma’arif Al-islamiyah Ats-tsaqafiyah, cetakan. 1, thn. 1437 H/2014 M

 

 

error: Content is protected !!