Indera Keenam dan 2 Tipe Pembagiannya

Indera Keenam dan 2 Tipe Pembagiannya

Indera Keenam: Pembagian

Salam sejahtera bagi semesta

Melanjutkan bahasan mengenai indera keenam pada artikel sebelumnya.

Orang yang mempunyai kemampuan untuk ‘menggetarkan’ jiwanya, sehingga akibat ‘getaran’ tersebut jiwanya mampu membuat diri jasmaninya mengejawantahkan wujud-wujud yang tidak biasanya ada atau pada biasanya wujud-wujud itu tidak tercapai oleh indera manusia di dunia wujud jasmaninya, terbagi kepada 2 (dua) type, yaitu:

1. Orang yang tidak belajar kajian makrifat, hikmah, kabuhunan dan yang sejenis, type ini terbagi kepada dua sub type, yaitu;

  • Type unik, orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk ‘menggetarkan’ jiwanya, akan tetapi kemampuan ini tidak bisa dia kendalikan, seperti kemampuan yang ada pada orang indigo dan pada orang yang mendapatkan ilmu turunan. ‘Getarannya’ terjadi kadang pada suatu waktu tertentu, semisal hari A jam sekian, atau muncul saat ketika sedang dalam keadaan terancam saja, atau muncul secara acak.
  • Type biasa, yaitu kemampuan ‘bergetar’ yang ada pada manusia awam, kemampuan ini masih terpendam dalam dirinya karena tidak ‘dihidupkan’, akan tetapi kadang muncul secara acak dalam kesehariannya, bisa sering dan bisa jarang.

2. Orang yang mempelajari kajian makrifat, hikmah, kabuhunan dan kajian yang sesifat. Pada type ini ada 3 (tiga) sub type, yaitu:

  • Type malakah, yaitu yang kemampuan mengendalikan ‘getarannya’ didapatkan dari proses riyadhah yang keras, seperti puasa puluhan hari, puasa berbulan-bulan, jenis puasanyapun bermacam-macam, ada ngebleng, ngrowot, mutih, patigeni, kubur diri, pasung diri, gantung diri (biasanya dibungkus kain kafan atau dedauanan kemudian digantung dipepohonan atau air terjun. Setelah selesai kain dan dedaunan yang dibungkuskan dibuka, dan kemudian menjalani proses nyerepkeun) , mara, ngaruhay dan lain-lain. Yang pada puasa itu diiringi dengan mendawamkan kalimah-kalimah khusus, seperti mantera-mantera, ayat-ayat, dzikiran-dzikiran, serat-serat, lambaran-lambaran, pasal-pasal, sruti-sruti, sutra-sutra, dan lain-lain. Melalui riyadhah inilah kemampuan ‘menggetarkan’ jiwa diserap kemudian diresapkan ke dalam 7 (tujuh) lapis diri, kemudian jika diperlukan bisa dihadirkan sesuai kendali.
  • Type ‘azimah, yaitu kemampuan ‘menggetarkan’  yang didapatkan dengan memanfaatkan benda-benda yang telah diisi, seperti wafaq, keris, pedang, kujang, mandau, badik, baju, kain, dan lain-lain. Pada type ini kemampuan bisa hilang jika benda yang menjadi ‘azimahnya’ jauh sepersekian meter dari badan pemilik.
  • Type nuzul, yaitu kemampuan  ‘menggetarkan’ yang didapatkan dengan cara ‘diisi’ , yaitu suatu proses ‘penggetaran’ yang dilakukan oleh guru ke murid, dengan tujuan menghidupkan potensi ‘getar’ yang ada dalam jiwa sang murid, potensi yang dihidupkan tergantung dari aurad apa yang dihadirkan sang guru ketika proses ‘penggetaran’ dilakukan. Kemampuan ini terbagi kepada beberapa type, yang paling rendah mirip kemampuan ‘getar’ pada awam, yang paling tinggi mirip kemampuan ‘getar’ pada type malakah tapi ini sangat jarang terjadi, karena proses ‘penggetaran’ dengan cara pengisian biasanya tidak menyerap atau meresap ke dalam tujuh lapis diri manusia.

Sumber gambar: Pixabay.com

error: Content is protected !!