Indera keenam: Permulaan

Indera keenam: Permulaan

Salam sejahtera bagi semesta

Dalam kalangan masyarakat umum sangat terkenal istilah ‘indera ke enam’ , ‘mata bathin’ , indigo, dan lain-lain.

Dalam kajian kabuhunan atau kajian makrifat istilah seperti itu di kenal sebagai situasi ‘bergetar’, yaitu dimana jiwa manusia sebagai pusatnya segala rasa menerima getaran dari suatu frekuensi yang berbeda atau frekuensi tinggi atau frekuensi sangat rendah, yang frekwensi itu tidak biasa dijumpai jiwa tersebut dalam kesehariannya.

Bagi manusia yang tidak belajar kabuhunan atau kemakrifatan, situasi ‘bergetar’ ini dikenal dengan dua istilah;

1. ‘kawenehan’ atau ‘ke-merinding-an’ atau ‘perasaan gak enak’ atau ‘kayak liat sesuatu’ atau ‘kayak denger sesuatu’ dan lain-lain. Ini terjadi secara random pada semua manusia.
2. Indigo, bagi yang indigo situasi ‘bergetar’ ini sering terjadi, kadang ada waktu tertentu ‘getaran’ ini datang dan kadang random.

Bagi manusia yang belajar kabuhunan atau kemakrifatan atau kebathinan atau kejawen atau kawiwitan atau hikmah dan lain-lain, situasi ‘bergetar’ ini bisa dikendalikan atau dihadirkan, bisa melalui mantera, do’a, ritual khusus, dan lain-lain.

Situasi ‘bergetar’ ini juga bisa diterapkan ke mata, hidung, telinga, kulit, akal, tangan, kaki, jasad, lapisan jiwa, dll. Pada pembahasan kali ini akan khusus untuk sisi mata saja.

Mata bathin itu dalam kajian kemakrifatan atau kabuhunan adalah ketika mata jiwa sanggup diejawantahkan oleh manusia untuk melihat objek yang diinginkan, entah itu terawangan, ramalan, indigo, dan lain-lain. Nah objek yang dilihat oleh mata jiwa itu dikenal dengan sebutan mir’ah al-hayah atau cermin kehidupan atau kitabul mubin.

Lalu apakah setiap apa yang dilihat oleh pemilik mata bathin atau indera ke-enam itu benar?

Jawabannya adalah tergantung mir’ah keberapa atau kitab atau cermin keberapa yang dilihat oleh mata jiwanya, karena ada tujuh mir’ah, yang 1 mir’ah dari yang tujuh itu mengandung 7 mir’ah, jd 7×7 = 49 mir’ah.

Misalkan ada orang ‘pintar’ atau orang ‘terkemuka’ atau orang indigo yang mendapatkan suatu visi bahwa akan terjadi suatu kejadian dimasa depan, atau mendapatkan visi masa lalu, atau mendapatkan visi alam lain, atau dia dihadiri visi bahwa dia bertemu dengan sosok ghaib, sosok wali, sosok nabi atau bisa melihat ‘isi’ manusia lain, dan lain-lain.

Nah penglihatan ini biasanya berada pada mir’ah kedua, pada mir’ah kedua oleh para sepuh penglihatan ini dibagi kepada tujuh jenis penglihatan, saya bahasakan dengan bahasa mudah, sebagai berikut:

1. Penglihatan Kulit
2. Penglihatan Kulit ari
3. Penglihatan Urat
4. Penglihatan Darah
5. Penglihatan Daging
6. Penglihatan Tulang
7. Penglihatan Sum-sum

Dari ketujuh penglihatan di atas yang benar-benar wujud asli adalah yang ketujuh, yang  enam dari yang tujuh itu adalah hanya citra saja bukan wujud sejati dari ejawantah visi. Dengan kata lain visi yang didapatkan atau yang hadir itu perlu ditanyakan hakikatnya, tanyakan kepada para guru kabuhunan atau kemakrifatan masing-masing, janganlah visi yang didapat ditafsirkan sendiri, karena banyak terjadi kesalahan bahkan kecelakaan fatal ketika visi yang didapat ditelan mentah-mentah.

Semoga bermanfaat dan salam damai.

KLepus .. WhuUuZz


Sumber Gambar: Pixabay.com

error: Content is protected !!