Jiwa dan Kedewasaannya

Belaian angin sejuk bukit Cipeundeuy, taburan cahaya mentari yang mulai menelisik, dan balutan kabut yang sedikit mulai tersibak pagi. Hari ini adalah hari terakhir bulan April, hari terakhir pada tiap bulan adalah hari yang selalu aku nanti-nantikan. Karena besoknya pada tanggal pertama bulan berikutnya kakekku gajian, yang sudah ritual tiap bulan jika kakek gajian aku mendapat hadiah, diajak ke pasar di kota kecil tempat aku tinggal untuk membeli mainan kesukaanku, yaitu gambaran.

Keesokan harinya, pagi sekali aku sudah bangun, kemudian berpakaian rapi, kemeja tangan pendek berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna coklat. Rambutku sudah tersisir rapi, dengan belah pinggir ala beatles,  klimis berbalur minyak rambut bermerk tancho. Dengan hati agak kesal karena kakek dari sehabis shalat shubuh pergi ke kebun belum pulang juga, katanya untuk merapihkan kebun yang rumputnya sudah panjang-panjang, khawatir nanti ada banyak ular yang bikin sarang. “Huh lama sekali sih kakek, nanti tukang gambarannya keburu pulang deh”, aku mengeluh kepada nenek, “Sabar kasep, sebentar lagi pulang koq, baru jam enam pagi, masih keburu”, nenek ku menjawab. Suara pintu dapur terbuka, terdengar suara kakek mengucap salam, “horray…!!!” aku berteriak senang dalam hati. Lari ke dapur terus merengek, “ayolah Kek cepaat, keburu pulang tukang gambarannya…”, “Iya kasep, sebentar kakek mandi dulu, masa ke pasar bau rumput.. haha”, kakekku menjawab, aku hanya bisa manyun saja, menahan kesal.

Memakai baju dinas hijau dengan deretan hiasan tanda jasa yang telah diterimanya kakekku terlihat sangat gagah. Dengan memakai kacamata hitam makin tampak sisa  raut-raut ketampanannya dimasa muda yang kini telah berbalut kulit keriput usia senja. Sepatu kulit berwarna hitam mengkilat, dengan bunyi sangat nyaring ketika sedang berjalan, masih ingat bunyi ketoplak ketoplak sepatunya kakek itu. Huuuh aku sangat bercita-cita suatu hari nanti aku ingin jadi tentara seperti kakek dan ayahku, agar terlihat gagah seperti mereka. Dengan menaiki motor jadul berwarna merah, aku dan kakek berangkat, biasanya bibiku selalu ikut, karena kakek dan nenek khawatir nanti kalau tidak diajak aku dan bibi bakal berantem, tapi untuk hari ini bibi tidak ikut karena tidak seperti biasanya jam segini dia masih tidur. Sang motor jadul merahpun mengerang pasang kuda-kuda, dan bruuuummmm… Aku dan kakek berangkat ke pasar… “horraaaay…”, dengan wajah berbinar karena senang aku duduk di depan menyambut angin yang mulai bertiup kencang menyambut lesatan si jadul merah.

Karena jarak dari tempatku tinggal ke pasar tidak terlalu jauh jika mengendarai sepeda motor, maka tidak kurang dari setengah jam aku dan kakek sudah sampai ke pasar. Sesampainya di Pasar aku langsung menuntun tangan Kakek ke tukang gambaran yang sudah menjadi langgananku setiap ritual bulanan ini. Akhirnya penantianku selama sebulan terlampiaskan aku mendapat hadiah 3 kebet (kebet, selembar kertas yang lumayan tebal berisi sekitar 30-gambar) gambaran. Setelah memperoleh apa yang menjadi keinginanku gantian Kakek yang menuntunku ke tempat jajanan favoritnya, gulai sapi, gulai ayam dan gulai kambing. Selesai membeli beberapa bungkus gulai kamipun bergegas menuju tempat parkir, dengan perasaan yang penuh gembira aku tersenyum cerah, Kakek mulai menghidupkan mesin, aku kembali duduk di atas tempat bensinnya si jadul merah, kamipun melesat pulang. Diiringi hembusan kencang angin pegunungan Malangbong, sepanjang perjalanan pulang sudah terbayang aku akan memamerkan koleksi gambaran terbaru kepada teman-temanku nanti.

Semilir angin suasana mendung dan suara burung-burung kecil di atas pohon mangga menyadarkanku dari lamunan masa lalu.

Aku pada masa kecilku menggambarkan jiwa manusia-manusia yang belum dewasa, kakek menggambarkan jiwa manusia-manusia dewasa. Jiwa yang belum dewasa selalu penuh dengan keinginan-keinginan, hasrat-hasrat yang menggebu terhadap sesuatu, dan ketidak perdulian terhadap keadaan orang lain. Seperti aku ketika kecil bangun pagiku, pakaian rapihku, rasa senangku, hasrat menggebuku, rasa kesalku dan rengekanku itu hanya karena aku menginginkan suatu hal atau benda, yaitu gambaran. Aku tidak perduli dan tidak memikirkan sama sekali Kakek capek atau tidak pulang dari kebun, yang penting buatku Kakek harus memenuhi keinginanku.

Kakekku adalah gambaran dari jiwa manusia-manusia yang sudah dewasa, yang penuh sabar, tenang, penuh maklum, tidak mementingkan diri sendiri, dan bersikap lembut pada jiwa yang belum dewasa. Tidak perduli seberapa capek beliau sepulang dari kebun, beliau tetap bersikap dan bertutur lembut dalam menghadapi rasa kesalku dan rengekanku. Kemudian di dalam rasa lelahnya beliau mau memenuhi keinginanku dengan tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa tergesa-gesa.

Jiwa yang belum dewasa akan selalu dipenuhi sifat dan sikap selalu tergesa-gesa. Tidak memikirkan efek selanjutnya dari ketergesa-gesaannya, yang penting baginya adalah semua keinginannya  dan hasrat menggebunya bisa terpenuhi dengan segera. Lalu jiwa yang belum dewasa sangat minim rasa maklumnya, selalu mencela yang berbeda dengannya, menghina apa yang tidak disetujuinya, mencaci apa yang dibencinya, dan berprasangka buruk kepada apa yang tidak diketahuinya. Kemudian jiwa yang belum dewasa dengan sadar atau tidak ketika menyukai sesuatu atau seseorang maka dia akan memuja setinggi-tingginya, akan menyanjung seindah-indahnya apa yang didambakannya, akan membanggakan dengan sangat apa yang diyakininya, dan akan menganggap benar secara absolut setiap apa yang telah diketahuinya.

Jiwa yang sudah dewasa akan selalu dipenuhi sifat dan sikap yang tenang. Selalu memikirkan efek selanjutnya dari setiap tindakannya, dan tidak mementingkan keinginannya sendiri. Bagi jiwa yang sudah dewasa kepentingannya adalah tidak begitu penting karena baginya kedewasaan dari jiwanya itu sendiri sudah memberi rasa cukup. Kemudian jika ada hasrat yang menggebu dari seorang jiwa yang dewasa, maka hasrat ini atau hasrat yang menggebu ini adalah hasrat untuk selalu mengambil pelajaran dari tiap segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupannya. Jiwa yang dewasa tidak pernah mencela apa yang tidak disetujuinya tidak pernah menghina apa yang tidak di  yakininya, penuh rasa maklum kepada semuanya, karena dia tahu setiap hal dan atau setiap orang itu memiliki kapasitas tertentu, capaian tertentu, dan ukuran tertentu dalam hidupnya.

Lalu jiwa yang dewasa itu penuh kewaspadaan di dalam menyukai, meyakini, membenci, menghadapi, membelakangi, membawahi, dan mengatasi segala sesuatu, karena dia tahu di dalam segala sesuatu itu ada hal-hal yang belum atau tidak dia ketahui, dimana dalam hal yang dia tidak tahu atau belum tahu tersebut mungkin saja ada sesuatu yang bisa berdampak positif atau negatif bagi dirinya. Dan manusia yang sudah dewasa jiwanya tidak akan pernah merasa bahwa apa yang telah dia ketahui itu adalah kebenaran absolut, karena dia menyadari ilmu pengetahuan yang telah diketahuinya belum seberapa bahkan jika dibandingkan dengan butiran pasir atau butiran debu yang ada di dunia ini. Dia tidak pernah berprasangka buruk kepada apa yang belum diketahuinya. Untuk yang belum diketahuinya dia akan belajar, mencari tahu, dan mengkonfirmasi jika memang itu diperlukan. Ketenangan dan kewaspadaan selalu ada dalam niat, rasa, akal, pikir dan tindakan manusia yang sudah dewasa jiwanya.

Seperti gambaran aku ketika kecil dengan Kakek, walaupun sifat keduanya sangat bertolak belakang jiwa manusia yang sudah dewasa dengan jiwa manusia yang belum dewasa sangat bisa hidup beriringan, berdampingan dan bersama di dalam kehidupan. Jiwa yang belum dewasa bisa menjadikan jiwa yang sudah dewasa itu menjadi pasangannya, gurunya, sahabatnya, orang tuanya, dan teman diskusinya. Kemudian menjadikan manusia yang jiwanya sudah dewasa itu menjadi contoh bagi dirinya agar dirinya termotivasi untuk menjadi lebih baik. Sementara jiwa yang sudah dewasa bisa menjadikan manusia yang jiwanya belum dewasa itu menjadi sarana untuk dirinya melatih kesabarannya, ketenangannya, kewaspadaannya, keteguhannya, dan kedalaman pahamnya. Kemudian menjadi anak tangga untuk menjadikan dirinya agar juga lebih baik lagi.

Suasana sore semakin mendung,  diiringi angin kencang, gemuruh guntur saling sahut, air hujan mulai deras menapaki bumi, dan burung-burung kecil di atas pohon mangga mulai beterbangan pulang menuju sarangnya. Akupun kembali menerbangkan diri ke dalam lamunan. KLepus.. WhuUuZz