Nafkah lahir dan nafkah bathin

Nafkah lahir dan nafkah bathin

Tafsir yang telah dikenal umum

Dalam kalangan masyarakat umum istilah nafkah lahir dan nafkah batin diketahui dengan definisi yang sudah secara umum bahkan mungkin sudah menjadi definisi mutlak. Nafkah lahir yaitu memberikan pemberian yang berkaitan dengan sandang, pangan, dan papan kepada istri. Nafkah bathin berarti dia memberikan kebahagiaan dari sisi seksualitas kepada sang istri. Pengertian seperti itulah yang sudah umum dikenal dan kemudian diyakini bahkan diimani dengan tanpa pertanyaan oleh kebanyakan masyarakat.

Tapi apakah benar seperti itu pengertiannya?

 

Pada Kenyataan

Tentang nafkah lahir, bagaimana jika sang istri atau wanita itu sudah sangat mampu memenuhi kebutuhan akan sandang, pangan dan papannya sendiri. Contoh dalam suatu rumah tangga sang istri mempunyai penghasilan yang lebih banyak dari sang suami, walaupun seandainya suaminya tidak bekerja dan tidak memberi uang kepada sang istri, dia sudah mampu memenuhi segala apa yang dia inginkan dan dia butuhkan, mulai dari urusan baju, dandanan, alat-alat make up, piring idaman, gelas kesukaan, sendok favorit, garpu idola, alat kecantikan, parfum, sepatu, baju dalam, dan lain-lain yang menjadi kebutuhan biasa bagi wanita.

Lalu di mana posisi pemberian nafkah lahir laki-laki jika perempuannya sudah mampu begitu. Apa fungsi suami bagi wanita jika memang nafkah sandang, pangan dan papan sang wanita sudah mampu berdiri sendiri. Untuk apa dia nikah dengan sang pria kalau tanpa keberadaan sang pria dalam kehidupannyapun dia sudah mampu memenuhi segala apa yang dia inginkan.

Tentang nafkah bathin, misalnya sang wanita ingin menikah agar dia mendapatkan nafkah bathin dari sang suami. Jika nafkah bathin yang dipahami itu sebagai hanya hubungan seksual, lalu bagaimana jika sang wanita ini tidak terlalu berselera dengan hubungan seks, dengan artian orientasi hidupnya itu lebih condong kepada kepuasan untuk menolong orang yang membutuhkan, berkarier dalam bidang yang dia kuasai, usaha mengembangkan hobinya menjadi sebuah penghasilan, baik itu menghasilkan penghasilan secara uang atau penghasilan untuk menolong orang yang membutuhkan. Sehingga orientasi seksual tidak lagi menjadi suatu kebutuhan utama bagi dirinya bahkan jika dia tidak berhubungan seksual pun tidak menjadi masalah baginya. Karena zaman sekarang kalau hanya ingin punya anak, ada banyak cara untuk mendapatkan anak dengan tanpa berhubungan seksual.

Lalu apa fungsi daripada nafkah bathin jika itu ditafsirkan atau diterjemahkan  hanya sebagai hubungan seksual, dimana letaknya itu untuk wanita jenis ini, untuk apa keberadaan sang pria dalam hidupnya, yang jika tanpa keberadaannya pun wanita ini sudah tenang-tenang saja, tanpa masalah walau tanpa hubungan seksual dalam hidupnya. Apa gunanya keberadaan sang pria, kalau bathin dia sudah bahagia, bathin dia sudah tenang, bathin dia sudah mendapatkan kebutuhannya, walau tanpa berhubungan seksual.

 

Beberapa Masalah Nafkah Lahir dalam tafsiran umum

Permasalahan yang banyak terjadi akibat dari definisi bahwa nafkah lahir adalah pemberian harta atau yang berupa pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan kepada wanita dalam kehidupan rumah tangga.

Awal perkenalan kepada keluarga wanita, sang pria akan ditanya apa pekerjaannya dan berapa penghasilannya atau walaupun tanpa ditanya berapa penghasilannya, dari pekerjaannya, keluarga dari istri atau istri itu sendiri akan mengukur berapa penghasilan sang pria dan apakah penghasilan itu mampu memenuhi biaya hidup sang wanita dalam sandang pangan dan papan. Jika dari penghasilannya mampu terukur bahwa dia mampu memenuhi kebutuhan sang istri atau kebutuhan gaya hidup sang istri atau memenuhi keinginan-keinginan daripada keluarga sang istri, maka pria tersebut akan diterima dengan penuh pujian. Jika terukur tidak mampu memenuhi apa yang menjadi ukuran-ukuran di atas, ya tidak diterima alias ditolak lah pria tersebut, ada tolakan halus dan ada pula tolakan yang disertai hinaan. Gagalnya sang pria meminang sang wanita akibat daripada ukuran nafkah lahir tersebut banyak memunculkan permusuhan, baik permusuhan antara keluarga atau permusuhan personal, baik permusuhan jangka pendek atau menjadi sebuah permusuhan jangka panjang, karena sakit hati yang diderita oleh sang pria atau karena ketidak puasan ‘selera’ kedua belah pihak.

Ada lagi permasalahan, ketika sang istri sudah bekerja dan sang suami juga sudah bekerja, sang istri dipaksa berhenti bekerja, karena keimanan masyarakat umum bahwa sang prialah yang wajib memberikan nafkah lahir kepada sang istri dan istri itu tugasnya ya hanya dirumah saja ngurus suami dan ngurus anak-anak kalau sudah punya anak. Pada mulanya rumah tangga berjalan baik, lama kelamaan ternyata sang pria tidak mampu memenuhi banyak keinginan daripada istri karena dulunya sang istri mampu dan sekarang tidak mampu lagi karena sudah dipaksa berhenti dari pekerjaannya oleh pihak suami. Istri menuntut apa yang dulu bisa dipenuhi oleh dirinya untuk dipenuhi oleh suaminya, akan tetapi karena sekarang hidupnya berdua, sang suami pun mempunyai kebutuhan pula, maka kebutuhan-kebutuhan istri ini tidak dapat dipenuhi secara full oleh sang suami, pertengkaran-pertengkaran pun mulai terjadi karena nafkah lahir dengan definisi yang telah dikenali tidak mampu lagi dipenuhi oleh sang suami, berlanjut.. Terus berlanjut dan BOOOM perang dalam rumah tangga terjadi. Bisa sang istri minta berpisah dari suami dan kemudian dia mencari lagi kerja, ya jika wanita ini masih dianggap ‘layak’ oleh lapangan pekerjaan mayoritas, bagaimana jika wanita ini sudah mempunyai masalah pada fisiknya akibat dari peperangan rumah tangganya, yang kemudian efeknya dia tidak mampu lagi untuk bekerja, tidak mampu lagi untuk mencari pekerjaan karena tidak akan diterima oleh suatu perusahaan atau suatu lapangan pekerjaan akibat masalah fisiknya tersebut, jadilah wanita ini menderita sendirian, sang suami enak saja dia menceraikannya kemudian mencari wanita lain untuk menggantikan istrinya dan istrinya pun berakhir dalam sebuah penderitaan yang sangat dia sesali. Menyesal karena menuruti kehendak suaminya dan kehendak iman masyarakat umum bahwa isteri ideal itu adalah yang diam di rumah saja ngurus suami dan anak.

Kemudian banyak rumah tangga yang menjadi hancur berantakan akibat dari sang suami dianggap tidak lagi mampu memberikan sandang, pangan, dan papan kepada istri. Sang suami tidak mampu lagi membelikan alat-alat make up, tidak mampu lagi membelikan alat-alat masak, dan tidak mampu lagi memenuhi apa yang sang istri inginkan, dan lain-lain. Kemudian sang istri, keluarga sang istri, dan orang-orang sekitar menganggap bahwa sang suami itu tidak mampu memberikan nafkah lahir pada istri, sehingga hancurlah rumah tangganya. Berawal biasanya saja, berantem kecil-kecilan, dari proses sang istri mulai merendahkan kemampuan suaminya, kemudian sang istri mulai mencari kerja, kemudian gajinya lebih besar dari suami, sang suami protes, karena sang istri tidak mampu lagi memberi ‘pelayanan’ kepada dirinya secara full, sang suami merasa tersisihkan, merasa rendah diri dan terhina, merasa tidak berguna karena gaji istri lebih besar daripada dirinya, dan kiamat rumah tanggapun terjadi.

Dan masih banyak lagi permasalahan yang sudah, sedang, dan akan bermunculan dalam rumah tangga penganut definisi nafkah lahir seperti ini.

 

Beberapa Masalah Nafkah Bathin dalam tafsiran umum

Ada rumah tangga yang hubungan seksual itu alih-alih memberikan ketenangan malah menyebabkan keretakan dan kehancuran. Karena hubungan seksual itu berlandaskan atas asas puas sama puas, jika suami puas istri tidak puas istri akan komplain, jika si istri puas suami tidak puas suami akan komplain. Dalam rumah tangga seperti ini, dia tidak peduli itu mau punya anak atau tidak yang penting puas sama puas, anak dalan rumah tangga seperti ini adalah konsekwensi bukan cita-cita, anak dalam rumah tangga seperti ini adalah aset tanam dan tuai budi, dan anak dalam rumah tangga seperti ini adalah beban yang harus diukur dengan angka-angka. Banyak kasus dalam rumah tangga seperti ini ketika sudah punya banyak anak, istrinya dianggap tidak lagi mampu memuaskan hasrat suami, maka suami mencari alternatif pemuasan seksnya, baik itu bermain dengan para pekerja seksual atau menikah lagi, yang akibat dari kelakuannya tersebut rumah tangganyapun berujung kandas. Bahkan tidak jarang suami dengan istri pada akhirnya menjadi musuh yang saling hina dan saling merendahkan. Anak-anak urusan belakangan yang penting mereka puas dengan ego dan nafsunya.

Ada banyak kasus dimana suami dan istri sama-sama punya ‘mainan’ di luar dan mereka berdua tahu sama tahu. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa keduanya tidak bisa saling memuaskan dalam urusan seksual. Akan tetapi jika berpisah malu kepada masyarakat, takut jika gengsinya hancur dalam pandangan rekan bisnisnya, malu kepada anak, malu kepada keluarga, dan malu-malu yang lainnya. Maka mereka berdua mencari kepuasan seksualnya di luaran dengan ‘mainan’ mereka masing-masing. Ya mesti rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja di luaran, akan tetapi hakikatnya mereka tidak lagi sedang menjaga rumah tangga, tapi sedang menjaga gengsi bisnis dan status sosial. Tidak ada rumah tangga dalam kehidupan mereka, yang ada adalah gengsi diri dan ego pribadi.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus lain dalam kalangan penganut iman bahwa nafkah bathin adalah hubungan seksual.

Lalu?

Dengan banyak terjadinya kasus yang menyisihkan penafsiran bahwa nafkah lahir itu adalah semata urusan sandang, pangan, dan papan kemudian nafkah bathin itu adalah semata hubungan seksual, lalu apa sebenarnya tafsir atau pengertian dari pada nafkah lahir dan nafkah batin yang dimaksud.

 

Nafkah lahir dan bathin melalui sisi tafsiran yang tidak umum

Nafkah lahir dan nafkah bathin menurut tafsiran tidak umum adalah tidak terpisahkan, keduanya satu kesatuan, sebagaimana tidak bisa dipisahkannya jasmani manusia dengan ruhani manusia. dalam kehidupan.

Berikut sekelumit pandangan mengenai nafkah lahir dan bathin menurut sisi tafsiran yang tidak umum.

a. Nafkah Sandang

Nafkah lahir dan bathin sandang yang terurai dalam ungkapan terkenal atau yang terkandung pada sebuah ayat kitab suci yaitu pasangan itu menjadi pakaian bagi pasangannya. Fungsi pakaian itu menutupi sang pemakai atau menutupi aurat sang pemakai, jika belum dianggap aurat maka pakaian itu menutupi jasad si pemakai dari:

1. rasa malu
2. kotoran-kotoran yang berasal dari angin seperti debu atau kotoran yang terkandung di dalam debu yang terbawa angin agar tercegah mengenai dirinya
3. Panas terik atau dingin cuaca mengganggu kesehatannya
4. untuk memantaskan dirinya pada suatu kondisi dalam suatu masyarakat. Contoh pakaian rapat ya pakai baju yang pas buat rapat, pakaian olahraga ya pakaian olahraga, pakaian renang misalnya ya pakaian renang, pakaian untuk tidur ya pakaian tidur, dan lain-lain. 

Banyak fungsi dari pada pakaian untuk badan tergantung dari situasi dan kondisi suatu tubuh dalam masyarakat. Karena keberadaan suatu tubuh dalam masyarakat itu bisa berada pada banyak kondisi dan banyak situasi maka diperlukan banyak baju untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena banyaknya baju ini maka sang pasangan perlu mengetahui, perlu memahami bagaimana dia memberikan baju kepada istrinya, bukan baju berupa baju lahir seperti yang terlihat atau baju dari kain atau baju dari bahan-bahan lahiriah lainnya, karena untuk baju jenis ini sang isteripun mampu membelinya. ‘Pakaian’ yang dimaksud adalah, sang suami idealnya mempunya ‘fungsi’ seperti pakaian bagi badan bagi istri. Yaitu menjaga istri dari teriknya hidup agar sang istri jangan sampai terbakar, dalam dinginnya hidup sang suami memberikan kehangatan agar sang istri tidak membeku, menjaga sang istri dari segala macam ‘kotoran-kotoran’ yang ada di dunia semampunya agar kesehatan sang istri tidak terganggu, menjaga kehormatan dan kepantasan diri sang istri, sehingga dimanapun posisi istri dalam keluarga dan masyarakat posisi istri itu terhormat atau minimal tidak dianggap rendah atau dipermalukan. Baik sisi pakaian bagi istri pada jasmaninya dan sisi pakaian bagi istri pada ruhaninya. Jika suami sudah bisa begini, pada hakikatnya nafkah lahir dan bathin berupa sandang telah terpenuhi.

b. Nafkah Pangan

Fungsi utama dari makanan bagi manusia baik itu perempuan atau lelaki adalah untuk tetap bertahan hidup dan sehat. Dalam tafsiran tidak umum ini nafkah pangan adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh sang suami untuk menjaga agar jasmani dan ruhani manusiawi istrinya tetap bertahan hidup dan sehat. Hidup dalam artian segala anasir positif dalam diri sang istri hidup. Hidup dalam artian menjaga kemanusiaan istri agar tidak mati, agar istrinya tetap menjadi manusia bukan menjadi manusia jadi-jadian, yaitu jangan sampai tubuh berbentuk manusia akan tetapi prilaku lebih buas dari binatang apapun di dunia. Menjaga agar jasmani, akal, hati, jiwa, intuisi, ruhani, kesadaran, estetika, etika, ilmu, dan segala hal positif yang mewujud sebagai entitas manusawi sang istri tetap bertahan hidup dan sehat.
Jika suami sudah bisa melakukan ini maka nafkah pangan lahir dan bathin untuk istri pada hakikatnya telah terpenuhi.

c. Nafkah Papan

Pada sisi tafsiran tidak umum ini nafkah papan atau tempat tinggal adalah segala sesuatu yang dilakukan suami untuk istri agar dimanapun dia dan istrinya berada maka istrinya merasa nyaman, tenang, bahagia, gembira, kuat, semangat, sejuk sekaligus hangat, tidak panas sekaligus tidak dingin, tidak bising sekaligus juga tidak terlalu sepi, tercegah dari terkena hujan keburukan, tercegah dari panas terik kezhaliman, terjaga dari wabah penyakit kedengkian, dan mewujud segala wujud rasa positif bagi jasmani hingga ruhani.

Jika suami sudah bisa begini, pada hakikatnya nafkah papan bagi istrinya sudah tercukupi.

Jika ketiga jenis nafkah di atas telah terpenuhi maka sempurnalah nama rumah tangga menjadi sebuah wujud rumah yang menjadi tangga untuk pasangan tersebut naik, naik mendaki bersama menapaki anak-anak tangga semesta, setapak demi setapak melewati berbagai maqam kejasmanian dan keruhanian bersama, menuju hakikatnya dari hakikat, menuju pengetahuan awal mula, bersama dengan cinta menuju mendekati wujud Sang Maha Cinta.

Rumah tangga seperti inilah yang akan mampu mengejawantahkan konsep sakinah, mawadah, dan rahmah. Rumah tangga yang menyinarkan sakinah kepada penghuninya dan alam sekitarnya. Rumah tangga yang mencahayakan mawadah kepada penghuninya dan alam sekitarnya. Rumah tangga yang menaburkan rahmah bagi penghuninya dan alam sekitarnya. 

Kemudian…

Kembali kepada pilihan manusia itu sendirilah sistem atau konsep rumah tangga apa yang akan mereka anut dalam kehidupan berumah tangganya. Menurut ikut kepada tafsiran yang sudah mapan dan dianut oleh umum atau membebaskan diri dari belenggu dari sistem atau konsep yang telah umum tersebut. Atau mempunyai konsep dan sistem sendiri yang telah berhasil dirumuskan.

Apapun dan atau bagaimanapun  …

Semoga berbahagia selalu.

error: Content is protected !!