Rahasia 4 Kelompok Manusia Beragama

Rahasia 4 Kelompok Manusia Beragama

Gerbang Rahasia

Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai makna atau hikmah yang saya dapat sedikit uraiannya dari Sepuh mengenai sekelumit kandungan dari dua ayat yang ada dalam Al-qur’an.

Bahasan akan diawali dengan kajian dari sisi bahasa, untuk ayat Al-qur’an tentunya bahasan dari segi bahasa memakai kajian bahasa Arab Kitabi dengan ‘alatnya’, seperti; Nahwu, Sharaf, dan lain-lain.

Setelah selesai bahasan dari segi bahasa, bahasan dilanjutkan dari segi kajian hikmah. Selamat membaca.

 

Rahasia Ayat Pertama

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah : 11).

و إذا (Dan apabila) قيل (dikatakan) لهم (kepada mereka) لا تفسدوا (janganlah kalian berbuat kerusakan) في الأرض (di bumi) قالوا (mereka berkata) انما نحن (sesungguhnya kami) مصلحون (orang-orang yang melakukan perbaikan).

 

Pembahasan dari segi i’rab

الإعراب:(الواو) عاطفة (إذا) ظرف لما يستقبل من الزمان يتضمن معنى الشرط مبني على السكون متعلق بالجواب قالوا. (قيل) فعل ماض مبني للمجهول (اللام) حرف جر و (الهاء) ضمير متصل في محل جر باللام متعلق ب (قيل) . (لا) ناهية جازمة (تفسدوا) فعل مضارع مجزوم وعلامة الجزم حذف النون و (الواو) فاعل (في الأرض) جار ومجرور متعلق ب (تفسدوا) . (قالوا) فعل ماض مبني على الضم و (الواو) فاعل.

Huruf و itu adalah huruf athaf, kata إذا itu adalah zharaf lamaa mustaqbal min az-zaman, yaitu kata yang arahnya menunjukan kepada masa yang akan datang, yang terkumpul pada kata ini makna syarath yang mabni atas tanda sukun yang berkaitan dengan al-jawab yang ada pada kata قالو. Kata قيل adalah fi’il madhi, yaitu kata kerja yang menunjukan telah dilakukan, yang mabni limajhul, huruf ل itu adalah huruf jar, huruf ه itu dhamir mutashil pada mahal jar dengan ل yang berkaitan dengan kata قيل. Huruf لا itu adalah nahiyah jazimah تفسدوا itu fi’il mudhari’ yang di jazmkan dan ciri jazmnya adalah dengan menghilangkan huruf ن.

Huruf و itu fa’il, في الأرض itu adalah jar dan majrur yang berkaitan dengan تفسدوا. Kata قالوا itu fi’il madhi yang mabni atas dhamah, dan huruf و adalah fa’il.

(إنما) كافة ومكفوفة لا عمل لها (نحن) ضمير منفصل في محل رفع مبتدأ (مصلحون) خبر مرفوع وعلامة رفعه الواو والنون عوض عن التنوين في الاسم المفرد.

Kata إنما adalah kaffah dan makfufah laa ‘amala laha. Kata نحن adalah dhamir munfashil dalam mahal rafa’ mubtada’, kata مصلحون itu adalah khabar yang dirafa’kan dan ciri rafa’nya adalah و dan ن yang menjadi iwadh daripada tanwin dalam isim mufrad.

 

Pembahasan dari segi ilmu sharaf

الصرف:(إذا) ظرف للزمن المستقبل فيه معنى الشرط، وقد يخلو من الشرط: والليل إذا يغشى. وقد يأتي للمفاجاة: خرجت فإذا رجل بالباب.

Kata إذا adalah zharaf li zamanil mustaqbal fihi ma’na asy-syarthi

(تفسدوا) فيه حذف للهمزة تخفيفا كما جرى في (يؤمنون، ويقيمون) .

Kata تفسدوا pada kata ini ada huruf أ yang dihilangkan untuk meringankan bacaan atau fihi hazfu lil hamzah tahfifan seperti yang terjadi pada kata يؤمنون dan kata يقيمون.

(قيل) ، فيه إعلال بالقلب، أصله قول بضم أوله وكسر ثانيه، ولكن الواو- وهو حرف علة- لا يستطيع حمل الحركة فوجب تسكينه ونقلت حركته إلى القاف فأصبح قول بكسر فسكون، ثم قلبت الواو ياء لسكونها وانكسار ما قبلها فأصبح الفعل قيل.

Kata قيل, kata ini adalah i’lal bil qalbi, yang pada asalnya adalah قول dengan mendhamahkan huruf awalnya dan mengkashrahkan huruf keduanya, yang kalau dibaca pada asalnya jadi quwil, akan tetapi و – yang dia adalah huruf ilat – tidak mampu untuk membawa harakah maka (menurut kaidah tata bahasa) wajib disukunkan dan dipindahkan harakahnya kepada huruf ق, maka jadilah قول dengan tanda kasrah menjadi pengganti dari tanda sukun, kemudian diganti huruf و oleh huruf ي karena kesukunannya, dan dikashrahkan huruf sebelumnya, maka jadilah fi’il

قيل.(الأرض) ، اسم جامد والهمزة فيه أصلية، وزنه فعل بفتحفسكون

Kata الأرض itu isim jamid dan huruf أ pada asalnya, dan wazannya adalah فعل dengan tanda fathah sebagai ganti dari tanda sukun.

(مصلحون) ، جمع مصلح اسم فاعل من أصلح، وفيه إذا حذف للهمزة تخفيفا كما حذفت من مضارعه لأنه على وزنه بإبدال حرف المضارعة ميما مضمومة وكسر ما قبل آخره، وأصله مؤصلحون.

Kata مصلحون adalah jama’ dari kata مصلح dan isim fa’il dari kata أصلح, dan padanya ada huruf أ yang dihilangkan untuk tahfifan seperti dihilangkannya من mudhara’ah, karena dia berada pada wazan menggantikan huruf mudhara’ah م yang didhamahkan dan dikasrahkan huruf sebelum akhirannya, kata ini pada asalnya adalah berbentuk مؤصلحون.

 

 

Rahasia Ayat Kedua

.أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari”. (QS. Al-Baqarah : 12)

Kata ألا yang berarti ‘ingatlah’, إنهم هم yang berarti ‘sesungguhnya merekalah’, المفسدونberarti ‘yang berbuat kerusakan’, ولكن (akan tetapi) لا يشعرون (mereka tidak menyadari)

 

Pembahasan dari segi i’rab

الإعرب : (ألا) حرف تنبيه (إن) حرف مشبه بالفعل للتوكيد و (الهاء) ضمير في محل نصب اسم إن و (الميم) حرف لجمع الذكور (هم) ضمير منفصل في محل رفع مبتدأ (المفسدون) خبر المبتدأ مرفوع وعلامة الرفع الواو (الواو) عاطفة أو حالية (لكن) حرف استدراك (لا) نافية (يشعرون) مضارع مرفوع وعلامة الرفع ثبوت النون (الواو) ضمير متصل فاعل.

Kata الا itu huruf tanbih, kata إن itu huruf musyabahah bil fi’li yang berposisi untuk menguatkan makna atau menguatkan arah makna dari sebuah kata/kalimat, huruf ه itu dhamir pada tempat nashab ism inna dan الميم itu huruf untuk menunjukkan kejamakkan (menunjukkan jumlah yang banyak) bagi kelompok laki-laki, هم itu dhamir munfashil pada tempat rafa’ mubtada’, المفسدون itu adalah khabar mubtada’ yang rafa, ciri rafanya adalah huruf و, huruf و itu adalah huruf athaf atau sebagai hal, kata لكن itu sebagai huruf istidrak, huruf لا itu sebagai nafiyah, kata يشعرون itu fi’il mudhari yang di rafakan, ciri rafanya adalah dengan adanya huruf ن

.جملة: إنهم هم المفسدون لا محل لها استئنافية.:

«هم المفسدون» في محل رفع خبر إن.وجملة: «لا يشعرون» لا محل لها معطوفة على الاستئنافية أو في محل نصب حال من الضمير المستكن في اسم الفاعل (المفسدون)

Kelompok kata انهم هم المفسدون bukan mahal yang padanya isti’naafiyah. Kelompok kata هم المفسدون berada pada mahal rafa’ khabar dari huruf إن. Kelompok kata لا يشعرون bukan mahal yang padanya ma’tufah atas isti’nafiyah atau kelompok kata ini berada pada mahal nashab haal daripada dhamir yang menetap dalam ismul fa’il المفسدون.

 

Pembahasan dari segi ilmu sharaf

الصرف : (المفسدون) ، جمع المفسد وهو اسم فاعل من أفسد، وفيه حذف للهمزة تخفيفا كما حذفت من مضارعه لأنه على وزنه بإبدال حرف المضارعة ميما مضمومة وكسر ما قبل آخره، وأصله المؤفسدون.

Kata المفسدين, itu jamak dari kata المفسد, dan dia adalah isim fa’il daripada kata أفسد, dan pada kata ini ada penghilangan huruf أ (hamzah) untuk peringanan bacaan seperti telah dihilangkannya من مضارعة karena dia berada pada wazannya dengan menggantikan huruf mudhara’ah م yang didhamahkan dan dikashrahkan apa yang ada pada akhirannya, dan bentuk asal dari kata ini adalah الؤمفسدون.

 

Rahasia Hikmah 2 ayat di Atas

Pada dasarnya semua manusia itu ingin berbuat baik, ingin menjadi orang yang baik, ingin menjadi lebih baik dan ingin terus berada dalam kebaikan. Memang secara sekilas menjadi orang baik itu mudah, akan tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu.

Manusia beragama atau meyakini suatu ajaran atau keyakinan adalah untuk menemukan jalan agar keinginan berbuat baik mereka diarahkan oleh ajaran agama atau keyakinan yang mereka yakini itu menuju kebaikan yang benar-benar baik dan kebaikan yang benar-benar benar.

Manusia beragama atau yang meyakini sebuah keyakinan sangat ingin sekali dan selalu berniat bahwa perbuatan mereka itu adalah semata-mata karena Tuhan dan demi Tuhan, sebagai persembahan kepada Tuhan, sebagai wujud ibadah kepada Tuhan, sebagai ejawantah dari sebenar-bemarnya pengabdian terhadap Tuhan, sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan lain-lain.

Pada ayat pertama dan kedua digambarkan bahwa ada kelompok manusia yang mereka sangat yakin bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, akan tetapi secara tidak sadar mereka sebenarnya sedang berbuat kerusakan.

Pada zaman ini ketika banyak pertentangan yang pertentangan itu mengarahkan manusia untuk saling membenci, mencela, menghina dan lain-lain, kemudian condong kepada mengarahkan manusia untuk saling membunuh dan memerangi.

Dalam ajaran tiap agama dan keyakinan banyak sekali ada perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada dalam kitab suci, sehingga berakibat melahirkan banyak sekte, madzhab, manhaj, dan lain-lain.

Masing-masing penganut sekte, madzhab, manhaj, dan kawan-kawan tentunya meyakini bahwa tafsiran kelompok merekalah yang baik dan benar.

Itu tidak menjadi masalah karena manusia tidak mungkin meyakini sesuatu yang mereka anggap salah. Akan tetapi menjadi masalah sangat besar ketika ada kelompok manusia yang memaksakan pemahaman atau tafsiran kebenaran versi kelompok mereka kepada kelompok manusia lain.

Sehingga akibat dari pemaksaan ini tentunya adalah terjadinya bentrokan, yang jika terjadi pada taraf debat dan diskusi tidaklah apa-apa, dan kadang baik untuk saling memahami dan memaklumi.

Akan tetapi sangat berbahaya jika pemaksaan ini sudah pada level mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pemahaman, berbeda pentafsiran dengan kelompoknya.

Sehingga akibat dari pengkafiran ini ada kelompok yang tidak segan memenggal para pria dari kelompok lain, menjadikan budak wanita dari kelompok lain, dan kemudian merampas harta kekayaannya, yang mereka yakini sebagai ghanimah.

Pada saat mereka melakukan pemenggalan, perbudakan dan penjarahan, kelompok ini sangat meyakini bahwa mereka sedang melakukan kebaikan, kebenaran dan perjuangan demi dan atas nama Tuhan. Ketika ada yang mengingatkan bahwa apa yang sedang mereka perbuat itu adalah tidak tepat dan mengakibatkan kerusakan, mereka menyangkal, dan mereka meyakinkan kepada yang mengingatkan itu bahwa mereka sedang melakukan perbaikan, mereka tidak merasa dan tidak sadar bahwa sebenarnya mereka itu sedang berbuat kerusakan.

 

Rahasia 4 Kelompok

Pemaknaan ayat pertama dan kedua dalam artikel ini, menjelaskan bahwa ada 4 kelompok manusia beragama yang menyangka sedang melaksanakan perintah Tuhan atau dalam rangka mengejawantahkan penyembahan terhadap Tuhan.

Padahal sebenarnya apa yang mereka perbuat itu sia-sia, karena apa yang sedang mereka ajarkan, doktrinkan kemudian laksanakan itu adalah sebenarnya bukan ajaran Tuhan, akan tetapi itu adalah ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin dari manusia itu sendiri.

 

Rahasia  Kelompok Pemuka

Pada kalangan para pemuka agamanya, jenis seperti yang digambarkan ayat-ayat di atas terbagi kepada dua kelompok, yaitu:

 

Rahasia Kelompok Pertama

Mereka menyangka apa yang sedang mereka ajarkan dan atau doktrinkan kepada umatnya atau jama’ahnya itu adalah ajaran Tuhan, perintah Tuhan, padahal secara tidak sadar dan tidak dia rasa bahwa sebenarnya dia sedang mengajarkan ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin manusia bukan ajaran Tuhan.

Mereka adalah manusia baik yang bersemangat dalam kebaikan, akan tetapi masih kurang banyak baca, kurang konfirmasi, atau terlalu fanatik madzhab dan manhaj.

Jenis ini bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih toleran juga baik maklumnya dengan lebih banyak baca dan banyak konfirmasi dari banyak sumber berbagai madzhab-madzhab dan manhaj-manhaj bahkan sumber dari berbagai agama.

 

Rahasia Kelompok kedua

Mereka menyadari secara penuh bahwa mereka sedang mengajarkan atau mendoktrinkan ajaran-ajaran manusia kepada umat atau jama’ahnya, mereka tahu sedang tidak mengajarkan ajaran Tuhan.

Akan tetapi mereka bersembunyi dibalik ayat-ayat suci, mereka menutupi kepentingan pribadi atau kelompok mereka dengan ayat-ayat suci, mereka sedang membodohi jama’ah dan umatnya, mereka tampak sangat shaleh dari luar, mereka adalah manusia jahat yang bertopeng agama.

Sebagian dari mereka memang memiliki kemapanan dalam keilmuan agama, memang memiliki gelar akademis yang tinggi, akan tetapi kemapanan ilmu dan gelarnya digunakan untuk memenuhi syahwat pribadi atau kelompoknya.

Jenis ini sangat berbahaya karena siapapun yang menentang mereka, maka bisa dicap sebagai penista agama, bisa dianggap munafik, bisa dituduh kafir, bahkan bisa dihalalkan darah dan hartanya, karena mereka tampak sangat shaleh dalam tampilan dan sangat fasih dalam pembicaraan.

Cara mengatasi kelompok ini, bagi yang mampu dan memiliki argumen yang mapan maka lawanlah argumentasi mereka, bagi yang tidak mempunyai kemampuan berargumentasi.

Maka jauhilah mereka atau laporkan kepada pihak yang berwenang atau pihak yang memiliki kemampuan, agar pihak yang berwenang dan memiliki kemampuan segera mengatasinya atau meredamnya.

 

Rahasia Kelompok Umat

Pada kalangan umatnya, juga terbagi kepada dua kelompok, yaitu:

 

Rahasia Kelompok Pertama

Dalam keadaan tidak merasa dan tidak tahu juga tidak sadar mereka yakin sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin Tuhan.

Mereka begini karena sangat bersemangat dalam belajar akan tetapi semangat mereka tidak di iringi dengan kewaspadaan, mereka menyangka bahwa bahwa agama atau keyakinan yang mereka yakini itu hanya mempunyai satu tafsiran saja dan satu pemahaman saja.

Mereka tidak mengerti atau kurang mendalami apa itu mazhab, apa itu manhaj. Mereka juga tidak tahu bahwa mereka sedang dibodohi, sedang diarahkan untuk memenuhi syahwat sang penjahat yang bertopeng agama. 

Pada akhirnya secara tidak sadar lambat laut mereka menjadi para boneka dari sang zhalim yang berbaju keshalehan. Mereka adalah orang-orang baik yang bersemangat belajar agama tapi tanpa kewaspadaan.

Jenis ini bisa dikurangi atau dicegah keberadaannya atau disembuhkan dengan cara menanamkan rasa selalu waspada dan jangan belajar hanya dari satu sumber saja, jangan belajar hanya satu pemahaman saja, jangan belajar hanya satu tafsiran saja, jangan belajar hanya dari satu kelompok, madzhab dan manhaj saja, atau bahkan jangan hanya belajar dari satu agama saja, semangatlah dalam belajar tapi tetaplah waspada.

 

Rahasia Kelompok Kedua

Mereka sadar penuh bahwa mereka itu tidak sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin Tuhan.

Akan tetapi sedang menerima, mendengarkan, membaca, menonton dan mendownload ajaran dan doktrin dari kelompoknya saja.

Mereka begini karena mereka merasa bahwa ajaran dan doktrin yang sedang mereka laksanakan itu sesuai juga dengan syahwat mereka. Mereka pada dasarnya bukan boneka seperti kelompok umat pertama.

Akan tetapi mereka adalah penjahat juga, tapi karena kurangnya kuasa dan keahlian dalam menipu maka mereka memutuskan untuk menjadi pengikut dari penjahat yang memiliki kuasa dan keahlian menipu yang lebih mapan dari mereka.

Jenis ini juga berbahaya, karena biasanya dari jenis inilah para algojo pemenggal dan penjarah berasal, dari jenis inilah berasal kelompok-kelompok pemakan hati manusia, dari jenis inilah berasal manusia-manusia yang secara terang-terangan berani berbuat kasar dan brutal dalam melaksanakan tafsiran kelompoknya.

Karena kelompok dari jenis ini cenderung bertindak kasar dan brutal, cara mengatasinya adalah laporkan kepada pihak yang berwenang atau pihak yang memiliki kemampuan, agar pihak yang yang berwenang dan memiliki kemampuan segera mengatasinya atau meredamnya.

 

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa manusia beragama itu terbagi ke dalam 4 kelompok, yang menginduk kepada 2 kelompok utama.

  1. Kelompok para pemukanya, yang terbagi kepada 2 kolompok
  2. Kelompok umatnya atau jama’ahnya, yang terbagi kepada 2 kelompok

Yang pada tiap kelompok memiliki ciri, sifat, dan sikapnya masing-masing.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa memang kebenaran mutlak itu ada, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum pula bahwa  itu dulu ketika para manusia suci masih ada ditengah-tengah manusia biasa. Yang jika ada salah tafsir atau syarah maka bisa langsung ditanyakan dan dikoreksi oleh sang manusia suci.

Untuk masa kini ketika para manusia suci penerima wahyu Tuhan sudah tidak berada ditengah-tengah kita, maka kebenaran itu menjadi relatif. Karena kebenaran menurut suatu kelompok belum tentu kebenaran bagi kelompok yang lain. Dan kebenaran mutlak pada zaman ini telah menjadi rahasia yang hanya Tuhanlah Yang Tahu.

Perbedaan penafsiran dalam memahami kitab suci tidak akan bisa dihilangkan atau dikurangi, bahkan mungkin akan makin bertambah, untuk menyikapi ini kita sebagai manusia yang tentunya tidak ingin menjadikan peperangan menjadi satu-satunya jalan keluar.

Dan juga pasti tidak ingin kerusakan terjadi di bumi ini, pada tiap hal mulailah untuk membiasakan diri bertanya pada ahlinya dan berdiskusi dengan ahlinya, yang jika salah atau kurang tepat menurut kaidah-kaidah ilmu yang sedang dipelajari, maka akan diluruskan.

Bertanyalah tentang Al-qur’an kepada ahlinya. Jika ingin tahu tafsir Al-qur’an dari segi ilmu nahwu maka bertanyalah pada ahli ilmu nahwu. Jika ingin tahu tafsir Al-qur’an dari sisi sejarah maka bertanyalah kepada ahli sejarah.

Jika ingin tahu pemahaman ahlu sunnah tanyalah ahli dari ahlu sunnah. Jika ingin tahu tengang syi’ah maka tanyalah ahli dari syi’ah. Jika ingin tahu tentang tasawuf , bertanyalah kepada ahli tasawuf. Jika ingin tahu tentang kristen, budha, hindu, konghucu, dan lain-lain maka tanyalah kepada ahlinya dari pihak-pihak tersebut.

Jangan bertanya sesuatu kepada yang bukan ahlinya, karena hasilnya akan jauh dari tepat menurut kaidah-kaidah keilmuan.

Pengetahuan atau ilmu itu merdeka dan aset berharga bagi manusia dan kemanusiaan.

Kepentingan pribadi atau kelompok memang pasti ada dan tidak akan bisa hilang. Akan tetapi jika diiringi dengan menghargai dan memaklumi kepentingan pribadi dan kelompok yang lain sebagaimana kepentingan dirinya dan kelompoknya ingin dihargai dan dimaklumi, maka pertikaian yang mengakibatkan perpecahan hingga peperangan itu tidaklah perlu ada.

Jika sama-sama punya tujuan baik kenapa tidak bersama-sama mewujudkan tujuan baik tersebut. Dan jika sama-sama tidak menyukai kerusakan maka mari bersama-sama mencegah kerusakan itu terjadi.

Sekian dahulu pembahasan untuk kali ini, pembahasan ini tidaklah cukup untuk menuturkan semua kandungan makna dan hikmah yang terkandung dalam kedua ayat di atas. Akan tetapi dengan segala kekurangan yang ada semoga artikel ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca sekalian. Cheeers..

Tetap waspada dan salam Damai dan …

KLepus…WhuUuZz


Sumber:

  1. Al-qur’an Al-karim
  2. Al-jadwal Fi I’rabi Al-qur’an Al-karim, karya Mahmud bin ‘Abdurrahim Shafi, Juz 1, hlm. 51-53, penerbit: Dar Ar-rasyid-Damsyik dan Mu’asasah Lil Iman-Beirut, cetakan ke-4, thn. 1418 H.

 

error: Content is protected !!